January 24, 2009
self portrait and a simple loneliness



Ok, i knew that some of photographer also more comfortable to create a self portrait, and sometime it's happen with me too. I got so much freedom when I'm doing it, i can explore my self as far as i can go.
I made these works few weeks ago, in my bed room when i felt completely alone. I took the photos with a pocket digital camera, it's a spontaneous idea to use that "whatever the name" lamp. I start to roll it on nude my body, took a cigarettes and start the timer, pose and poses.
and here you go, feel free to dive my simple loneliness and stuck your self on the illumination wall.
Vote here :
Miss = Nona
November 20, 2008
ketika semuanya terasa begitu salah
Pernah saya baca di sebuah buku yang entah apa judulnya, bahwa kadang dalam satu fase di kehidupan yang kita jalani, kita akan menjumpai diri kita berada pada posisi yang tidak jelas kemana arahnya. Kemudian, kekosongan akan dengan segera kita rasakan, seperti ada yang terlewat begitu saja, hilang atau bahkan kita tidak pernah tahu apa yang sebenarnya menimpa kita.
Mencari, adalah satu hal yang paling lazim dan spontan dalam menghadapi fase ini. Mungkin proses yang satu ini bisa berjalan begitu lambat, cepat atau tergesa-gesa, akan tetapi, segera kita akan menyadari bahwa kita perlu menemukan pertanyaan itu atau dasar atas pencarian kita, “apa yang saya cari sebenarnya?”. Kalimat pendek itu memang terkesan sederhana, tetapi menurut saya pribadi, pertanyaan itu sedikit rumit.
Di umur saya yang twenty something ini, seharusnya pertanyaan tersebut sudah terjawab. Kenyataanya, memang tidak semudah yang saya kira. Sempat saya berpikir bahwa apa yang cari dan inginkan itu sudah saya temukan, tetapi ketika prose situ berjalan, saya kembali pada pertanyaan dasar itu. Kembali me-redefini diri saya dan mencari jawaban, mungkin untuk proses ini saya bisa belajar dari pengalaman seorang Christopher McCandless. Dia adalah seorang pemuda yang memilih untuk meninggalkan kehidupan yang nyaman untuk mengejar apa yang dianggapnya sebagai sebuah kebebasan, berjalan dalam sebuah pencarian, menyusuri Amerika dan Mexico hingga dia memutuskan untuk menjelajahi Alaska. Meskipun, akhirnya perjalanannya harus berakhir pada kematian.
Pelajaran paling mendasar yang saya dapat dari cerita yang sudah terekam dalam bentuk film ini (Judul filmya “Into The Wild”, disutradari oleh Sean Penn), adalah niat dan keberanian kita dalam memilih dan menentukan arah hidup kita. Seperti Chris yang memiliki mimpi untuk hidup dalam kebebasan, saya sendiri adalah seseorang yang memiliki mimpi, hanya saja hingga saat ini, saya merasa belum melakukan apa-apa untuk mewujudkan mimpi itu. Dan karena alasan inilah, saya tiba pada satu fase dimana saya kembali pada sebuah pertanyaan dasar tersebut. Karena, menurut saya, ketika nanti saya sudah dihadapkan pada awal perjalanan yang hendak saya tempuh, saya harus sudah memiliki pondasi awal yang kokoh.
Sederhannya, tahu apa yang saya inginkan dan siapa diri saya sebenarnya, adalah pondasi yang baik. Setidaknya, saya berharap, dengan pondasi tersebut saya akan mampu bertahan dalam setiap keadaan, baik yang menyenangkan, melenakan atau menghancurkan.
October 21, 2008
the second rain
from a dusty hot rail road,
while the wind symphony end up
in a hand of a blind and deaf conductor.
and a handful girl comes silently
with a bucket of pouring water
flies above the wreck roofs.
October 11, 2008
INSOMNIA DAN SECANGKIR TEH
Jangan lupa, kau pernah menuliskan sepetak lubang yang digenangi bah di jalan depan, tepat di saat aku ingin berhenti menghitung partikel-partikel udara. Kemudian, kau juga langsung menimpali dengan menenggelamkan burung hantu pada kelangkang laut yang ada di bawah gubuk reot di bawah pohon yang tak lagi didauni matahari dan napas.
Tapi, bahwa aku sudah tidak lagi memiliki peri-peri yang senantiasa bersemayam dalam bantal dan guling di atas bongkahan kapuk itu, adalah kejujuran seorang penyebar berita atau penceramah. “Aku tidak percaya!”, begitu katamu. “Aku mencium bau bangkai di atas altar persembahan dan tempat mereka menyampaikan berita”.
Aku mengerti bahwa yang kau maksud adalah kambing-kambing penggembala yang dibiarkan menjadi liar di padang yang penuh dengan ranjau-ranjau serupa apel yang nyala merah. Lalu, aku juga paham tentang kuda yang berlarian meneriakan rasa bebas tak lagi bahwa bahwa pancang rantai itu selalu ada di kaki-kakinya, “dia tidak pernah berkenalan dengan merdeka atau yang dibilang pengembala, penyelamat, penununtun atau apalah itu namanya…”
Hujan tiga hari lalu juga tak akam mampu menumbuhkan sekam yang kutaman di atas kepala boneka bersayap, begitu katamu. Aku segera pergi sembari menari dan meninggalkan aku dengan teh dalam cangkir berwarna legam, “Aku tidak akan pernah tidur hingga aku bertemu denganmu kembali…”
Gresik, 10 October 2008, 9:53:23 PM












